Connect with us

Peristiwa

Terhadap Serbuan Covid-19, Banyak Warga Anomali

redaksi

Tayang

-

Laporan

Terhadap Serbuan Covid, Banyak Warga Anomali

JAKARTA – Secara umum masyarakat Indonesia itu banyak yang anomali dalam bersikap terhadap mewabahnya pandemi Covid19.

Wakil Sekjen Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Suryadi, mengatakan, padahal perilaku anomali itu selain sangat merugikan diri sendiri juga sesama manusia yang sebenarnya sudah taat protokol kesehatan (prokes).

“Bukankah virus Corona itu ada, meski sampai hari ini belum diketahui wujudnya? Oleh karena itu, patuhi protkes demi lebih bersikap menjaga orang lain dan diri sendiri dari memungkinan menjadi penular atau sebaliknya yang tertular,” katanya.

Menyebut sikap-sikap mereka yang anomali terhadap keyakinan adanya virus penyebab Covid-19, lanjut Suryadi, dapat dibaca dari berbagai perilaku yang ditunjukkan oleh warga secara terbuka.

Misalnya, mereka takut terpapar Covid-19 tapi masih juga berkerumun dalam berbagai event ritual tanpa hirau akan pentingnya 3M dan pembatasan sosial.

Ada lagi, tambahnya, mengaku tidak percaya ada Covid-19, tapi memencilkan tetangga yang anggota keluarganya meninggal lantaran serangan Covid-19.

Sewajarnya, lanjut Suryadi, hidup bertetangga itu menunjukkan rasa empati.

“Misalnya, meminta baik-baik agar mengisolasi mandiri, sambil pada saat yang sama membantu kebutuhan hidupnya secara bergotong-royong selama masa isolasi mandiri,” imbaunya.

Pemandangan serupa, lanjutnya, juga bisa ditemui di lokasi wisata pada perayaan tertentu seperti akhir tahun dan tahun baru.

“Gugus tugas Covid-19 harus tegas menindak. Polisi dan TNI sudah cukup maksimal dengan kesabaran mereka menjalankan tugas,” tambah Suryadi.

Suryadi bersikap, andai boleh memilih, yang terbaik memang sejak awal Februari 2020, Indonesia sudah harus me-lockdown baik pintu-pintu masuk internasional yang resmi maupun yang tak resmi seperti bandara, pelabuhan, perairan terbuka di depan perairan internasional, dan darat.

Sebab, lanjutnya, Covid-19 itu tidak kenal yang otonomi dan demokrasi. Maka, lockdown harus menjadi kebijakan nasional, satu komando dari Pemerintah pusat yang harus dijalankan oleh seluruh daerah.

Jika itu dilakukan sejak awal, kemungkinan besar hari-hari ini Indonesia bisa seperti pernah dialami Taiwan yang pernah lebih awal menurun meski boleh dibilang relatif dekat dengan negeri asal Covid-19 (Wuhan di Cina).

Dengan cara itu, start recovery perekonomian akan lebih jelas sehingga tidak terjadi “kadang PSBB, kadang pula tidak”.

Suryadi menduga, anggaran yang digunakan saat ini untuk penanggulangan Covid-19, sudah sangat besar dibandingkan kalau dilakukan lockdown sejak awal.

Ia mengimbau, kebijakan tutup pintu internasional mulai 1 Januari 2021 agar benar-benar dijalankan secara ketat dan konsisten, sehingga harapan teratasinya masalah Covid-19 ini kian dapat dirasakan upaya-upaya mewujudkannya.