Connect with us

Metropolitan

Rasa Aman dan Turunnya Kejahatan Bukti Nyata Sinergitas Polri dan Masyarakat

Ali AA

Tayang

-

Laporan

Rasa Aman dan Turunnya Kejahatan Bukti Nyata Sinergitas Polri - Masyarakat

JAKARTA – Terjaminnya rasa aman diikuti oleh besarnya partisipasi masyarakat berbarengan dengan terus menurunnya laju angka kriminal, akan menjadi bukti sinergitas masyarakat – Polri terjalin nyata.

Pengamat kepolisian dan budaya dari Lembaga Kebudayaan Nasional, Suryadi, M.Si, Senin (1/2/21) menilai positif silaturahmi Kapolri baru Jenderal Pol. Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si ke berbagai kalangan masyarakat dalam sepekan ini.

Sigit dilantik oleh Presiden menjadi Kapolri baru, di Istana Negara, Rabu (27/1/21). Ia menggantikan seniornya Jenderal Pol. Drs. Idham Azis, M.Si yang pensiun pada 30 Januari 2021.

Segera setelah dilantik Sigit menyengaja bersilaturahmi mohon dukungan atas pelaksanaan fungsi dan tugas Polri ke PB NU dan PP Muhammadiyah.

Selain itu ia juga menyambangi organisasi yang mengurusi para habaib/ keturunan Nabi di Indonesia (Rabithah Alawiyah, RA).

Pengamat Kepolisian

Suryadi, M.Si

Kemarin (31/2/21) ia juga menyambangi Panglima TNI dan turun langsung bersama-sama membagi-bagikan masker kepada masyarakat.

Langkah yang diambil Sigit itu penting dan strategis. Mengingat NU dan Muhammadiyah merupakan Ormas dengan anggota terbesar di Indonesia. Sementara RA sangat terkait dengan makna keteladanan.

“Tak kalah pentingnya adalah sinergitas Polri – TNI. Keduanya menunjukkan kian kokohnya jaminan keamanan bagi masyarakat dan Negara,” kata penulis sejumlah buku tentang Polri itu.

Publik paham bahwa Polri yang kini sipil, masih menggunakan “satu garis komando” sampai ke tingkat bawah, namun pada saat yang sama juga tampil sebagai pelayan humanis dalam pemberian rasa aman kepada masyarakat, pelayanan dan penegakan hukum.

Sebagai satu contoh sekakigus “komando”, lanjut Suryadi, langkah-langkah Sigit diyakini akan serentak diikuti oleh jajaran bawah hingga di daerah-daerah.

Gerakan yang dilakukan Kapolri dan jajaran bawah serupa itu, adalah cerminan kesadaran bahwa polisi tak punya pilihan lain kecuali sudah harus ‘civilize’. Itulah cara-cara yang mengena yang sesuai secara sosiokultural setempat.

Contohnya, Irjen Pol. Dr. Rudy Heriyanto, S.H., M.H., M.B.A., yang Selasa (5/1/21) dilantik menjadi Kapolda Banten, telah menggelar aktivitas serupa di daerahnya yang dikenal sebagai “Bumi Beribu Ulama, Beribu Santri”.

Rudy adalah Kapolda Banten ke-15, sedangkan Sigit menjadi Kapolda Banten pada 5 Okt. 2016 – 13 Agustus 2018, adalah Kapolda yang ke-12.

Setelah dilantik, Rudy juga segera menggulir “12 Comander Wish” yang intinya secara sosiokultural mendekatkan diri kepada berbagai kalangan utamanya, kaum agamawan, dan bebagai potensi masyarakat lainnya.

“Comander Wish” itu segera ditindaklanjuti Rudy dengan bersilaturahmi kepada berbagai kalangan. Dia bahkan selain menyambangi, juga disambangi.

Misalnya, Kamis (28/1/21) Majelis Permusyawaratan Masyarakat Kasepuhan (MPMK) dipimpin Junaedi Ibnu Jarta menyambangi Rudy di kediaman resmi Kapolda di Serang, Ibu Kota Banten.

Baik yang dilakukan Kapolri maupun jajaran bawahnya, lanjut Suryadi, merupakan pertanda keinginan luhur menjujung tinggi nilai-nilai kesetempatan (lokalitas) sehingga dapat berjalan bersama masuk ke dalam suatu jalinan sinergi.

“Tentu tidak bisa segera dirasakan hasilnya. Sinergitas itu harus dibuktikan bersama dalam bentuk-bentuk nyata yang saling menguatkan,” kata Suryadi.

Puncak dari sinergitas, urainya, adalah kian tingginya partisipasi masyarakat terutama dalam langkah-langkah cepat pencegahan.

Dengan partisipasi tersebut, lanjutnya, Polri menjadi cepat tanggap untuk bertindak, dan rasa aman masyarakat kian terjamin lantaran harapan bahwa angka kriminalitas terus menurun benar-benar terwujud.

Bukan itu saja, lanjutnya, puncak dari puncak ketenteraman masyarakat adalah ketika rasa aman mereka terjamin oleh hukum dibarengi rasa terlayani di setiap kehadiran polisi. (rls)