Connect with us

Opini

Pengamat Kepolisian : Strategis, Pengganti Sosok yang Naik jadi Kapolri

Ali AA

Tayang

-

Laporan

Pengamat Kepolisian : Strategis, Pengganti Sosok yang Naik jadi Kapolri

JAKARTA – Pemikiran strategis saat ini bagi Polri sebaiknya ditujukan pada penataan sumber daya manusia (SDM) khususnya siapa-siapa yang bakal mengisi jabatan bintang tiga seperti Wakapolri ke bawah.

Ketua Dewan Pembina Pusat Studi Komunikasi Kepolisian (PUSKOMPOL), Suryadi, M.Si di Jakarta, Senin (4/1/21) mengatakan, bagaimanapun hari-hari ini Presiden Joko Widodo sangat mungkin sudah menentukan siapa Kapolri baru pengganti Jenderal Pol. Idham Azis.

“Rasanya, mustahil kalau Presiden belum punya calon pengganti Jenderal Pol. Drs. Idham Azis, yang akhir Januari ini pensiun. Itu sebabnya lebih baik memikirkan pengkaderan untuk pasca tiga tahun ke depan,” kata Suryadi.

Saat ini, lanjutnya, justru layak untuk melihat siapa-siapa yang bakal menjadi pengganti orang yang naik menjadi Kapolri, imbau penulis sejumlah buku tentang Polri dan tokoh Polri itu.

Pemikiran demikian itu, lanjutnya, erat berkaitan dengan penataan termasuk penempatan para jenderal yang ada.

Langkah tersebut harus dipikirkan mengingat strategis bagi pemenuhan rasio perbandingan polisi dengan kapasitas yang mampu memenuhi tuntutan fungsi dan tugas.

“Jadi, nantinya bukan cuma mempertimbangkan rasio satu polisi berbanding 200 – 300 warga, tapi bagaimana dengan kapasitas yang ada mampu memenuhi tuntutan fungsi dan tugas,” urainya.

Jadi, yang patut diperhatikan oleh Kapolri, misalnya, bagaimana yang duduk pada jabatan dengan bintang tiga dan dua, pada tiga tahun mendatang siap menempati posisi Kapolri, Wakapolri dan selebihnya Kapolda sampai Kapolres dan Kapolsek.

Ia mencontohkan, andai nanti Kapolri dan Wakapolri baru bakal purna tugas tiga tahun mendatang, maka calon-calon penggantinya juga sudah siap minimal untuk memangku jabatan minimal sampai tiga tahun setelah dia.

Dengan demikian, lanjut Suryadi, bukan cuma para jenderal dan Pamen yang mendapat perhatian soal karir , tapi juga penataan berkala penerimaan taruna Akpol, perwira sumber sarjana, bintara, dan tamtama.

Jika hal itu dilakukan, lanjut Suryadi, maka akan sangat strategis dalam mengendalikan jumlah anggota dengan kepangkatan yang beriringan dengan peningkatan kapasitas berbasis kualitas.

Saat ini diperkirakan, Polri memiliki 300 – 400 jenderal, 1.300-an Pamen dan selebihnya perwira menengah serta bintara dan tamtama.

Pada saat yang sama, lanjut Suryadi, hendaknya sudah mulai dipetakan antara kebutuhan berbasis keahlian, dengan tetap memerhatikan karir kepangkatan dan jabatan sehingga antrean calon pemimpin dapat lebih tertata lagi.

Hal tersebut, katanya, akan dapat terlihat, apabila jabatan seperti berbagai analis tergantikan oleh pemungsian yang efektif.

Suryadi yakin bila hal serupa itu bisa dilakukan, bertahap dan pasti jabatan, kepangkatan dengan keahlian akan dapat disejalankan.

Maka, pada saat yang sama profesionalisme polisi akan dicapai. “Dengan begitu, seorang AKP dengan kapasitas keahliannya, belum tentu gajinya lebih rendah daripada seorang AKBP,” kata Suryadi.**

Baca : Anomali vs Covid-19 dan Korupsi