Connect with us

Megapolitan

Kisah Pilu Ibu Ating di Jayanti, 10 tahun Tinggal Sebatang Kara di Pos Ronda

Tayang

-

Oleh

Kisah Pilu Ibu Ating di Jayanti, 10 tahun Tinggal Sebatang Kara di Pos Ronda

CEKLISDUA.CO – Di Kabupaten Tangerang yang katanya Gemilang, ternyata masih ditemukan salahsatu warganya yang tinggal di pos ronda dengan ukuran 1.5 Meter x 2 meter di kampung Pabuaran RT 01/01 Desa Pangkat Kecamatan Jayanti Kabupaten Tangerang selama kurang lebih 10 tahun.

Warga itu bernama Ating, seorang ibu yang ditinggalkan suaminya sepuluhan tahun silam hidup sebatangkara tanpa sanak saudara, dan kini menempati bekas pos ronda untuk tidur dan memasak.

Menurut keterangan Irwan, warga Kampung Pabuaran RT 01 01 Desa Pangkat Kecamatan Jayanti saat dikonfirmasi awak media mengatakan, Ating tinggal di bekas pos ronda sudah sekitar 10 tahun semenjak meninggal suaminya.

“Ibu Ating berasal dari Garut Jawa Barat sedangkan suaminya asli warga Pabuaran, keseharian ibu Ating mencari barang bekas seperti botol mineral yang biasa di jual ke lapak limbah.” Terang Irwan, Minggu (28/2/2021).

Warga disini, lanjut Irwan, sering memberikan makanan kepada Ating. “Kasihan ibu itu Sebatangkara, saya berharap kepada pemerintah agar segera memberikan rumah yang layak huni untuk ibu ating,” harapnya.

Selanjutnya, Ketua Karang Taruna Desa Pangkat, Alek, saat dikonfirmasi tidak mengetahui kalau ada warga Desa Pangkat yang tinggal di bekas pos ronda.

“Saya baru tau ini pak selama ini, saya tidak tau kalau ada warga kami yang tinggal di bekas pos ronda, mana kumuh lagi di lihatnya, nanti akan saya sampaikan ke pak kades dan pak camat,” kata Alek.

10 tahun Tinggal Sebatang Kara di Pos Ronda

LSM Geram Banten Indonesia mengunjungi kediaman Ibu Ating dan memberikan bantuan sembako. (Sn Adhi/Ceklisdua.co)

Sementara itu, Ating saat ditemui dikediamannya mengungkapkan kesedihannya, setelah meninggal dunia suaminya, dia menempati pos ronda dekat rumah saudara suaminya.

“Sebelumnya saya dan suami tinggal di rumah saudara suami, setelah suami saya meninggal dunia saya menempati pos ronda yang dekat dengan saudara suami sampai sekarang saya hidup sebatang kara,” ujar Ating.

“Kalau untuk bertahan hidup sehari-hari saya mencari botol plastik untuk beli beras dan lauk pauk, selama tinggal di pos ronda saya belum pernah dapat bantuan dari pemerintah,” sambungnya.

Ating, dalam kesepatan itu mengucapakan terima kasih kepada LSM Geram Banten Indonesia yang sudah memberikan bantuan sembako untuk dirinya.

“Saya ucapkan terima kasih kepada bapak-bapak dari LSM Geram Banten Indonesia yang sudah memberikan bantuan sembako untuk saya, semoga semuanya diberikan kesehatan keselamatan dan rezeki yang berlimpah,” ucap Ating mendoakan.

Dalam kesempatan itu, Ketua LSM Geram Banten Indonesia, H. Alamsyah MK menyatakan keprihatinannya terhadap Ating, setelah mendengar informasi dari anggotanya kalau ada warga Desa Pangkat Kecamatan Jayanti yang tinggal di bekas pos ronda yang tampak kumuh dan memprihatinkan.

“Spontan, yang tadinya bansos rutin bulanan ini untuk daerah yang di agendakan, terpaksa kita putar arah ke kediaman ibu Ating, ternyata benar ada kalau ibu Ating tinggal di pos ronda yang kumuh sudah sekitar 10 tahunan,” katanya.

H. Alamsyah menambahkan, seharusnya pihak pemerintah Desa dan Kecamatan Jayanti mengetahui kalau ada warganya yang hidup sungguh memprihatikan tinggal di tempat yang tidak layak huni seperti ini.

“Besok Senin saya akan beritahu kepada Kades dan Camat Jayanti untuk segera memberikan perubahan yang layak untuk ibu Ating,” pungkasnya.

Penulis: Sn Adhi
Editor: Ali Aa
Sumber: Ceklisdua.co