Connect with us

Megapolitan

Hikayat Pembangunan Bendungan Pamarayan Kabupaten Serang

Tayang

-

Oleh

Hikayat Pembangunan Bendungan Pamarayan Kabupaten Serang

SERANG – Pada masa silam saat Tanah Banten di jajah Kolonial Belanda, pada masa itu Provinsi Banten di pimpin oleh seorang Raja (jaman kerajaan-red).

Penelusuran ceklisdua.co secara eksklusif berkesempatan mewawancara langsung dengan seorang kuncen yang paham tentang asal-usul Pamarayan dari cerita gurunya. Namun narasumber dimaksud tidak berkenan disebut namanya. Sabtu (30/01/2021).

Diceritakan pada zaman itu Banten dipimpin oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Tidak disebutkan nama raja yang dimaksud, namun mempunyai permaisuri bernama Nyi Ratu Almina. Yang akhirnya sering disebut Kerajaan Almina.

Sejarah Uang logam emas yang berlobang di tengahnya (Gobang) asal-usulnya nya adalah , pada saat itu Raja berjanji jika ada anak laki-laki yang lahir bersamaan dengan kelahiran Putri Raja maka Sang Raja akan memberikan hadiah, namun jika tidak ada bayi yang lahir bersamaan dengan kelahiran putri Raja maka Raja akan melobangi uang logam emas (gobang) di tengahnya.

Saat itu juga bendahara kerajaan Nyi Sepuh Kamilah (Ratu Kemuning) memerintahkan punggawa kerajaan yang bertanggung jawab dibagian keuangan kerajaan melaksanakan titah Raja dengan melobangi semua uang emas (gobang) yang ada.

Perubahan sosial, budaya mulai nampak saat Belanda menduduki wilayah Banten. Sistim kerjapaksa dilakukan oleh kolonial. Namun pada waktu itu Raja tidak setuju dengan sistim kerja rodi dan dibuatlah perjanjian kerjasama antara Raja dan Kolonial Belanda.

Hasil perjanjin itu salah satunya dibuatlah kesepakatan untuk membangun sebuah bendungan tepatnya di Pamarayan dengan tidak menerapkan sistim kerja paksa.

Rakyat dikerahkan untuk bekerja dengan membendung aliran sungai yang menuju ke Desa Panyabrangan, baru kemudian dibangunlah jembatan yang sekaligus sebagai bendungan.

Ada beberapa kejadian diluar nalar terjadi saat pembangunan Bendungan Pamarayan itu , dimana para pekerja mengambil upah kerjanya dengan mengabil sendiri semaunya, hal anehnya adalah uang Gobang yang disediakan sebagai upah tidak barkurang jumlahnya walupun ratusan pekerja mengambil masing-masing dengan jumlah yang banyak.

Bendungan lama Pamarayan dibangun pada masa penjajahan Belanda yakni pada Tahun 1901sampai Tahun 1918. Kepala pembangunan Bendungan Pamarayan adalah Ki Mas Buang yang konon salah satu tanganya berlobang (bolong-red) dibantu arsitek Belanda yang nengerjakan sistim mekanik pintu air yang terbuat dari roda gigi, rantai dan lempengan baja.

Letak Bendungan Pamarayan berada pada dua wilayah yakni Di Desa Pamarayan Kecamatan Pamarayan dan Desa Panyabrangan Kecamatan Cikeusal Kabupaten Serang.

Nama Bendungan Pamarayan dari sejarahnya pada saat itu merupakan tempat dimana bendundungan dibangun para pekerjanya menerima pembayaran upah di tempat itu, maka kata “Pamarayan” asal dari kata “Pembayaran”. Sejak saat itu Bendungan dan tempat itu dinamakan Pamarayan.

Bendungan Pamarayan difungsikan sebagai pengatur debit air sungai ciujung dan saluran irigasi yang konon sebelumnya saluran irigasi sederhana sudah dibangun oleh Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1905 yang dikenal dengan nama kanal Sultan.

“Bendungan bersejarah itu sekarang seperti tak bertuan, banyak bagian-bagian bendungan yang dijarah masyarakat, harapan saya pemerintah daerah menjaga bendungan itu dari penjarahan tangan-tangan jahil, Karena selain sebagai cagar budaya, bendungan itu juga merupakan kekayaan Provinsi Banten”. Tutup Kuncen sang narasumber. (jaka)

Advertisement