Connect with us

Peristiwa

Bantu dan Beri Kail Pada “Muntarif-Muntarif” Di Banten

Ali AA

Tayang

-

Laporan

Ini Kata Camat Walantaka Soal Warganya yang Tinggal di Bekas Kandang Kerbau

JAKARTA – Muntarif (47) yang hidup miskin bersama istri dan seorang anak di Walantaka, Kota Serang, Banten, tidak sendirian. Bahkan, di Banten pasti masih ada “Muntarif-Muntarif” lain yang butuh ‘kail’ untuk bisa mandiri dan produktif.

Wakil Sekjen Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Suryadi, M.Si di Jakarta, Rabu (13/1/22) mengatakan, jika kondisi Muntarif baru diketahui sekarang, itu pun melalui media, jelas sebuah ironi.

“Dia kan mengaku sudah 12 tahun tinggal sangat memprihatinkan di situ? Kalau sudah lama diketahui dalam kondisi seperti itu, apa tuh namanya,” tukasnya.

Suryadi dimintai tanggapannya oleh ceklisdua.co terkait ditemukannya Muntarif dan keluarga hidup memprihatinkan tinggal di Kampung Kemanduran, Kelurahan Teritih, Kecamatan Walantaka, Kota Serang.

Seperti diberitakan ia sudah 12 tahun tinggal bersama seorang anak dan istrinya, Kastiyah (37) di bekas kandang kerbau di kampung di Ibu Kota Banten itu.

Seorang tetangga mengatakan, Muntarif sehari-hari bekerja sebagai kernet bangunan. Para tetangga sesekali memberi bantuan semampunya.

Suryadi mengatakan, Muntarif dan keluarga tidak sendirian di Banten bahkan di Tanah Air Indonesia. Keluarga seperti itu dengan tingkat kemiskinan dan latar belakang beda-beda, pasti masih banyak lagi.

Orang miskin atau orang yang terancam miskin, dapat dipastikan level miskinnya di setiap kali bencana masif termasuk yang ditimbulkan oleh Covid-19, terus bertambah secara kuantitas dan kualitasnya.

Dari sisi sebaran, Muntarif pasti tidak sendirian. Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, misalnya, mencatat pada Maret 2020 orang miskin di perkotaan Banten naik menjadi 5,03 persen dari 4 persen pada Setember 2019.

Di pedesaan Banten juga demikian. Terdata 8,18 persen pada Maret 2020. Ini naik dari 7,31 persen pada September 2019.

Di seluruh Banten, Suryadi mengutip laman BPS Provinsi Banten, pada Maret 2020 naik menjadi 5,92 persen dari 4,94 persen pada September 2019.

Jadi, lanjutnya, bukan Pemerintah tidak tahu, demikian juga dengan masyarakat termasuk para pemuka masyarakat dan kalangan berpunya.

Dengan demikian dia tidak sendirian. Bantuan-bantuan yang bersifat segera seperti kebutuhan hari-hari tetap diperlukan dari berbagai pihak termasuk lembaga derma dan Pemerintah.

Termasuk di dalamnya yang terlupakan adalah mengedukasi secara konkret disertai bantuan material sehingga dia tidak lagi hidup sehari-hari jauh dari kategori sehat dan manusiawi.

Akan tetapi, lanjutnya, Muntarif dalam jangka yang tidak terlalu lama, harus dibantu agar bisa menolong dirinya sendiri.

Dilihat dari usia baik Muntarif maupun istrinya adalah orang-orang dalam usia produktif.

“Muntarif dan mereka yang bernasib serupa perlu segera dibantu, tapi jangan cuma “charity”,” kata Suryadi.

Keluarga-keluarga seperti Muntarif yang tersebar di mana-mana di Tanah Air, khususnya di Banten, tidak boleh dibiarkan sendirian dalam kemiskinan yang memenjarakan mereka dalam kebodohan.

Suryadi mengimbau, baik potensi masyarakat, lembaga derma maupun Pemerintah harus segera turun tangan mengatasi persoalan senasib dengan Muntarif dan keluarga.

“Bantuan segera, is oke, tapi bantu segera mereka agar dapat bangkit sehingga tidak ketergantungan pada uluran tangan orang lain,” kata Suryadi.**